Powered By Blogger

Selasa, 20 September 2011

SALAH SATU ALASAN MENGAPA KAMI ADA! (PIK-REMAJA/MAHASISWA)

Purwakarta, Pelita --REMAJA, memiliki permasalahan yang sangat kompleks seiring dengan masa transisi yang dialami oleh para remaja. Masalah yang menonjol dikalangan remaja, semisal masalah seksualitas seperti kehamilan yang tak diinginkan dan aborsi. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja perlu terus digalakkan.

PIK Remaja itu sendiri, berfungsi untuk memberikan informasi seperti pendewasaan usia perkawinan, keterampilan hidup (Life Skills) juga untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan lain yang khas sesuai minat dan kebutuhan remaja untuk mencapai Tegar Remaja dalam rangka Tegar Keluarga guna mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera.

“PIK Remaja adalah suatu wadah kegiatan program penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja atau yang kita kenal dengan PKBR,” ujar Alit Sukandi S.Pd Kepala UPTD Wilayah III Purwakarta Badan Keluarga Berencana Perlindungan Ibu dan Anak (BKBPIA) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat (Jabar).

Keberadaan PIK Remaja, lanjut Alit Sukandi, selain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para remaja juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi para pembina dan pengelola PIK Remaja terkait dengan tujuan, sasaran dan ruang lingkup serta strategi pembentukan dan pembinaan serta pengembangan PIK Remaja.

Dengan adanya PIK Remaja di setiap wilayah kecamatan, sambung dia, maka para remaja bisa mengetahui secara jelas dan bisa mengatasi jika ada permasalahan yang dihadapi melalui pelayanan pelayanan informasi dan konseling kesehatan reproduksi serta penyiapan kehidupan berkeluarga.

Alit Sukandi mengatakan, masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Karenanya, kehidupan remaja merupakan kehidupan yang sangat menentukan bagi kehidupan masa depan mereka selanjutnya. Dan masa remaja itu, bisa dikatakan sebagai masa transisi kehidupan remaja.

Dimana dalam masa transisi remaha, paparnya, terbagi dalam lima pase yakni melanjutkan sekolah (continue learning), mencari pekerjaan (start working), memulai kehidupan berkeluarga dan mempraktekan hidup sehat. Oleh sebab itu, kelima fase tersebut erat kaitannya dengan PKBR yaitu fase mempraktekan hidup secara sehat.

Sedangkan ke empat fase atau kehidupan lainnya, akan dimasuki oleh para remaja itu ditentukan oleh berhasil tidaknya para remaja mempraktekan hidup secara sehat. Dengan kata lain, kata Alit, jika remaja gagal berperilaku sehat kemungkinan besar remaja bersangkutan akan gagal pada empat bidang kehidupan lainnya.

Perilaku

Alit Sukandi memaparkan, data yang kaitannya dengan perilaku sehat remaja khususnya yang berhubungan dengan risiko TRIAD KRR yang meliputi seksualitas, napza, HIV dan Aids dimana sebagian remaja Indonesia berperilaku tidak sehat, hal itu terlihat dari hasil suvey kesehatan reproduksi remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2002 – 2003 lalu.

Kebanyak remaja, jelas alit, mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada usia antara 14 – 19 tahun dimana tercatat 37,7 persennya adalah remaja perempuan dan 30,9 persen adalah remaja laki-laki. Sedangkan usia 20 – 24, dimana 48,6 persen adalah perempuan dan 46,5 persen laki-laki.

Masih banyak penelitian-penelitian terhadap perilaku remaja yang ada di kita, dimana pada umumnya perilaku remaja sangat mengkhawatirkan. Bahkan hasil survey Komnas Perlindungan Anak di 33 provinsi mengisyaratkan 97 persen remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno dan 93,7 persen pernah berciuman.

Dengan demikian, perilaku seks pranikah remaja cenderung terus meningkat. Sehingga kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) juga terjadi pada kelompok remaja. Bahkan, kata Alit Sukandi, jumlah kelompok remaja Indonesia yang menginginkan suatu pelayanan KB angkanya cukup mencengangkan.

Jika 90 persen perempuan dan 85 persen remaja laki-laki sudah menginginkan pelayanan alat kontrasepsi (alkon) dikaitakan dengan jumlah remaja usia 15 – 24 tahun yang jumlahnya sekitar 42 juta jiwa, artinya sekitar 37 juta jiwa remaja membutuhkan pelayanan alkon tidak terpenuhi atau unmet need ber KB untuk kelompok remaja.

Oleh sebab itu, untuk merspon permasalahan yang dihadapai para remaja, pemerintah dalam hal ini BKKBN telah melaksanakan dan mengembangkan program PKBR (penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja) yang diarahkan untuk mewujudkan Tegar Remaja dalam dalam rangka Tegar Keluarga guna mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera.

Sedangkan ciri-ciri Tegar Remaja, kata Alit, yaitu remaja yang menunda usia pernikahan, remaja yang berperilaku sehat, terhindar dari resiko TRUAD KRR, remaja yang bercita-cita mewujdukan keluarga kecil bahagia sejahtera serta menjadi contoh, model, idola dan sumber informasi bagi teman sebayanya.

Upaya untuk mewujudkan remaja Indonesia khususnya di Kabupaten Purwakarta melalui program PKBR ini, seuai dengan konsep Tegar Remaja akan diupayakan melalui strategi Tegar Remaja yang dilaksanakan melalui pengembangan faktor-faktor pendukung program PKBR dan remaja dalam konteks dan situasi faktor risiko TRIAD KRR.

Program PKBR apabila tidak dilaksanakan degan pengembangan faktor pendukung, maka akan mengakibatkan meningkatnya jumlah remaja yang bermasalah. Sehingga, akan mengganggu pencapaian tugas-tugas perkembangan remaja, tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan remaja baik secara individu semisal fisik, mental, emosional dan spritual.

Sedangkan tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan remaja secara soasial, yaitu melanjutkan sekolah, mencari pekerjaan. Memulai kehidupan berkeluarga, menjadi anggota masyarakat yang normal dan mempraktekkan hidup sehat. Karenanya peran dan keberadaan PIK Remaja, sangat dibutuhkan. (yan hendrayana)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar